
Tim yang digawangi oleh tiga siswa berbakat—Banon Akbar, Mangku Praja Pramana, dan Sapta Wijaya Syakti—berhasil memikat dewan juri lewat inovasi alat penanak nasi ramah lingkungan. Di bawah bimbingan guru pendamping, Syifa Masna Raisalah, S.Sos., M.Pd., mereka menciptakan alat bernama Panah Tapis: Penanak Nasi Hemat Tanpa Emisi.
MALANG – Prestasi membanggakan di kancah nasional kembali ditorehkan oleh talenta muda asal Malang. Tim siswa dari SMP Unggulan AL-YA’LU sukses mengamankan gelar Juara 2 Nasional dalam ajang bergengsi KIHAJAR STEM 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada November lalu.
Berawal dari Masalah Kantin Sekolah
Ide pembuatan Panah Tapis ini tidak muncul begitu saja. Tim AL-YA’LU berangkat dari keresahan nyata yang mereka amati di lingkungan sekitar, khususnya mengenai tingginya konsumsi energi dan emisi yang dihasilkan dari aktivitas menanak nasi di restoran maupun kantin sekolah.
“Kami ingin mencari solusi konkret untuk memecahkan masalah pemborosan energi saat menanak nasi dalam skala besar. Dari situ lahir konsep Panah Tapis ini,” ujar salah satu anggota tim.
Melalui pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), mereka merancang sebuah sistem penanak nasi yang tidak hanya hemat energi, tetapi juga mampu menekan emisi gas buang secara signifikan.
Menyisihkan Ribuan Kompetitor
Langkah menuju podium juara tidaklah mudah. Sebagai kompetisi berjenjang berskala nasional, KIHAJAR STEM 2024 diikuti oleh ribuan tim dari berbagai penjuru Indonesia. Kompetisi ini menyaring kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif para peserta melalui empat tahapan yang sangat ketat: basic, intermediate, advanced, hingga puncaknya di babak grand final.
Setelah menyisihkan kompetitor berat dari berbagai daerah dan terpilih mewakili provinsi, tim SMP Unggulan AL-YA’LU sukses mempertahankan presentasi karya mereka di hadapan dewan juri pada tahap final.
Ajang KIHAJAR STEM sendiri merupakan program tahunan Kemendikdasmen yang dirancang untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Lewat pemanfaatan teknologi digital, kompetisi ini mendorong siswa untuk aktif menghadirkan solusi nyata berbasis sains dan teknologi atas permasalahan di sekitar mereka. Keberhasilan tim AL-YA’LU ini membuktikan bahwa inovasi berbasis lingkungan dari ruang kelas mampu bersaing di level tertinggi nasional.

